04 February 2011

Jangan Bersedih Menghadapi Kritikan dan Hinaan


Kesabaran dalam menghadapi kritikan dan cercaan akan membuahkan hasil pada kita yang memuaskan. Dan kritikan mereka itu, pada dasarnya pertanda bahwa kita memiliki harga dan derajat. Karena manusia tidak pernah menendang bangkai anjing dan orang-orang yang tidak berharga pastilah tidak akan pernah terkena sasaran pendengki. Artinya, jika kritikan yang kita terima semakin pedas, maka semakin tinggi harga diri kita. Karena orang- orang yang mulia itu selalu ada yang mendengki dan sebaliknya orang-orang hina itu tidak pernah kita jumpai yang di dengki.

Orang-orang mulia selalu didengki karena nikmat yang mereka miliki, padahal Tuhan tidak akan mencabut apa yang mereka dengki itu. Ibarat seseorang yang berhasil menggapai puncak langit kemuliaan maka musuhnya dalah bintang-bintang di langit kedengkian.

Kita tidak akan pernah bisa membungkam mulut manusia untuk tidak melakukan pelecahan terhadap kehormatan. Meski demikian, kita dapat melakukan kebaikan dan menghindari perkataan dan kritikan mereka.

Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan dan kita coba untuk menghadapi kritikan dan hinaan, yaitu jangan pernah membalas cercaan atau olok-olokan yang melukai hati kita. Karena, kesabaran kita dalam mengahadapi semua itulah yang akan dengan sendirinya menguburkan semua hinaan. Kesabaran adalah sumber kemuliaan, diam adalah sumber kekuatan untuk mengalahkan musuh, dan memaafkan sumber dan tangga untuk mencapai pahala dan kemuliaan.

Ingat bahwa setengah dari orang yang pernah mencerca atau mengkritik kita itu akan melupakan cercaan mereka, sepertiganya tidak sadar dengan apa yang mereka lontarkan. Dan selebihnya tidak akan pernah mengerti apa dan mengapa mereka mencerca kita. Maka dari itu, jangan pernah cercaan mereka kita masukkan ke hati dan jangn pula berusaha untuk membalas apa yng mereka katakan itu.

Seorang bijak bestai berkata, “Orang-orang akan sibuk menggunjingku manakala jatah roti mereka kurang dari jatah rotiku. Dan jika tak ada seorang pun dari mereka yang kehausan, maka mereka tak akan pernah mengusik kematianku dan kematianmu.”

Rumah yang akan senantiasa tentram meskipun hanya ada sepotong roti di dalamnya, adalah lebih baik dari sebuah rumah yang penuh dengan makanan lezat tapi tidak pernah lekang dari kegaduhan dan sumpah serapah

Sumber “La Tahzan”

04 January 2011

Kendalikan Emosi


Emosi dan perasaan akan bergolak dikarenakan dua hal yaitu kegembiraan yang memuncak dan musibah yang berat. Jika seseorang mampu menguasai perasaanya dalam setiap peristiwa, baik yang memilukan dan juga menggembirakan, maka dialah yang sejatinya memiliki kekukuhan iman dan keteguhan keyakinan. Karena itu pula , dia akan memperoleh kebahagiaan dan kenikmatan dikarenakan keberhasilannya mengalahkan nafsu. Allah SWT menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang bergembira dan berbangga diri. Namun ketika ditimpa kesusahan, manusia mudah berkeluh kesah, dan ketika mendapat kebaikan manusia sangat kikir. Akan tetapi, sifat-sifat menusia seperti itu tidak dimiliki manusia yang khusyu` dalam sholatnya. Itu karena orang-orang seperti itulah yang mampu berdiri seimbang diantara gelombang kesedihan yang keras dan dengan luapan kegembiraan yang tinggi. Dan mereka itulah yang akan senantiasa bersyukur jika mendapat kesenangan dan bersabar jika berada dalam kesusahan.

Emosi yang tak terkendali hanya akan melelahkan, menyakitkan, dan meresahkan diri sendiri. Sebab, ketika marah misalnya, maka kemarahannya akan meluap dan sulit dikendalikan. Dan itu akan membuat seluruh tubuhnya gemetar, mudah memaki siapa saja, seluruh hatinya bertumpah ruah, nafasnya tersengal-sengal, dan ia akan cenderung bertindak sekehendak nafsunya. Adapun saat mengalami kegembiraan, ia akan menikmatinya secara berlebihan, mudah lupa diri, dan tidak ingat lagi siapa dirinya.

Begitulah manusia, ketika tidak menyukai seseorang, ia cenderung menghardik dan mencelanya. Akibatnya, seluruh kebaikan orang yang tidak ia sukai itu lenyap begitu saja. Demikian pula ketika menyukai orang lain, maka orang itu akan terus ia puja dan sanjung setinggi-tingginya seolah-olah tak ada cacatnya. Padahal jika kita menyukai seseorang secara berlebihan, kita tidak akan tahu kalau orang itu akan menjadi musuh dilain waktu. Begitu juga sebaliknya dengan orang yang kita tidak suka, kita tidak akan tahu bahwa orang itu akan menjadi sahabat dilain waktu.

Jika kita mampu menguasai emosi, mengendalikan akal dan menimbang segalanya dengan benar, maka kita akan melihat kebenaran, kita akan tahu jalan lurus yang harus kita lewati, dan kita akan menemukan hakekat ditujuan kita.